Perempuan dan Ideologi Hiburan
Thursday, December 8th, 2005Perempuan dan Ideologi Hiburan
Oleh: Veven Sp Wardhana
Oleh: Veven Sp Wardhana
Biasanya, saban kali ada tudingan atau catatan kritis terhadap sebuah tayangan televisi, pihak pembuat mata tayangan dan stasiun penayangnya bakal berkilah: mereka sebatas membuat dan menyiarkan hiburan atau tontonan.
Saat saya lontarkan bahwa sebagian besar sinema televisi sosok perempuan senantiasa diposisikan serba negatif tukang racun, pemaksa suami melakukan korupsi, pengintrik cerdik, pembuhul malapetaka stasiun penayangnya pun menandaskan: yang mereka buat bukanlah karya seni, melainkan tontonan biasa. Bersejajar dengan ketika reality show bertajuk Joe Millionaire Indonesia yang dinilai merendahkan derajat dan martabat perempuan karena perempuan hanya dipilih-pilih, bukan memilih jawaban pembuat dan pengelola televisi tetap stereotipikal: mereka cuma bikin tontonan atau hiburan, tak ada niatan meleceh kaum perempuan.
Dengan demikian hendak dikesankan bahkan ditahbiskan bahwa yang namanya hiburan atau tontonan itu netral, bebas nilai, atau nirideologi apa pun. Setidaknya, ada dua kemungkinan tentang anggapan netralitas ini.
Pertama, ideologi dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa, tinggi tak tersentuh, serba mengawang, sakral, yang meniscayakan pengerutan kening, dan sebangsanya. Kedua, tetap terkait yang pertama, ada anggapan bahwa hanya ada satu ideologi yang perlu dipahami, yaitu ideologi Pancasila, sementara ideologi-ideologi lainnya tak perlu-bahkan haram, lebih dari sekadar makruh dipelajari, dipahami, bahkan sekadar dibaca. Bisa jadi, itulah kisah sukses rezim Orde Baru yang menuntut publik untuk monoloyal pada penguasa, dan membuat keder rakyat jika dicap dengan label tidak pancasilais, anasionalis, subversif, kekiri-kirian, dan seterusnya.
Ideologi, galibnya, adalah sebuah cara berpikir yang dijadikan titik pijak dalam kehidupan. Sekadar menghibur barangkali juga sebuah ideologi. Yang kemudian pantas dipersoalkan adalah: dalam memberi hiburan lewat serial sinetron yang senantiasa menempatkan peran para perempuan sebagai sumber malapetaka dan marabahaya, ideologi itu akhirnya bukan saja memberi stigma bahwa para perempuan adalah benar-benar biang segala-gala. Satu hal yang tak bisa ditolak dengan kilah antagonis perempuan jadi lebih menarik.
Sama persis dengan kugiran megagrup musik Dewa saat melantunkan lagu Dua Sejoli. Mereka tak semata menyenandungkan bunyi dalam tatanada penuh dayu dalam sebuah peninaboboan telinga, melainkan sekaligus peninaboboan ideologis yang menegaskan perempuan cumalah pelengkap penyerta: jangan pernah ingkari dirimu adalah wanita; harusnya dirimu menjadi perhiasan sangkar maduku.
Budaya patriarki
Menganggap perempuan sebagai musabab petaka tidaklah haram. Mungkin ada historiografi pribadi yang memungkinkan penyimpulan macam itu. Maknanya, karena itu lebih bersifat personal, individual. Begitu pengalaman empirik personal itu dijadikan cara pikir, dijadikan ideologi, dia tak lagi menjadi milik pribadi. Terjadilah proses sosialisasi. Sosialisasi ideologi inilah yang lantas berbenturan bukan saja dengan para pejuang feminisme, melainkan dengan siapa pun yang melihat bahwa budaya patriarki hanya memunculkan diskriminasi.
Karenanya, saat Inul Daratista mengeborkan goyangnya di atas panggung dangdut, terutama di layar televisi, itu bisa diterjemahkan tak sebatas sebagai bentuk kebebasan ekspresi berkesenian (sebagaimana dikumandangkan para pembelanya). Namun Inul, sebagai perempuan, justru sedang menguasai tubuhnya sendiri setelah selama ini hanya para lelaki juga perempuan yang mengamini dan mengimani patriarki yang memiliki privilege menjlèntrèhkan berderet batasan atas anatomi perempuan, sementara tiada secuil pun koridor bagi anatomi lelaki yang dikaitkan dengan syahwat yang menggoda.
Dalam tataran tertentu, foto sensual pesohor Sophia Latjuba di sampul majalah Matra, yang beberapa tahun lampau diperkarakan itu, mempunyai kesejajaran dengan Inul Daratista. Sejajar pula dengan pola ungkap novel-novel Ayu Utami lewat Saman dan Larung atau cerpen-cerpen Djenar Maesa Ayu dan dalam novel mutakhirnya, Nayla.
Berderet tabu yang dimaklumatkan pengemban budaya patriarki yang menindas para perempuan itulah yang dicoba ditandingi Inul Daratista, Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Sophia Latjuba, dan berbaris nama lainnya. Setidaknya, jika selama ini anatomi perempuan dan adegan ranjang itu digelimangi fantasi dan pola pikir kreator lelaki dari David Herbert Lawrence, Motinggo Boesje, Abdullah Harahap, hingga para komikus Anda S dan Mansyur Daman kini para kreator perempuan itu sendiri yang justru menyodorkan realitas yang mereka miliki dan kuasai sendiri.
Ideologi tak pernah tunggal dan tak bisa dimanunggalkan. Para dara remaja yang ber-tank top dan ber-you can see tak bisa serta-merta divonis sedang menawarkan godaan syahwat atau sedang menjalani pornoaksi (sebuah istilah bentukan baru yang terasa ajaib penerapannya!). Karena sesungguhnya mereka sedang membebaskan diri dan tubuh mereka dari berbaris ideologi puritan yang hanya menempatkan perempuan sebagai penggoda gelegak syahwat.
Pemberitaan media yang tak tampak pembelaannya terhadap diskriminasi perempuan ini, juga terjadi pada pemberitaan tentang konflik di Timor Timur, Papua, dan Aceh. Yang seharusnya, dengan alasan fairness, tak bisa dimaknai begitu saja sebagai tidak nasionalis.
Nasionalisme pers memang membuhul tebal saat Nusantara berada dalam jajahan kolonial kompeni Belanda dan pendudukan fasisme Jepang. Nasionalisme itu terangkat ke permukaan karena kompeni Belanda dan fasisme Jepang berposisi sebagai penindas. Dalam kasus konflik Papua dan Timor Timur, juga posisi perempuan di atas, terasa remang adakah masyarakat Papua, Timor Timur, atau perempuan menjadi penindas? Atau malah gamblang mereka sebenarnya adalah kelompok yang tertindas.
Jadi, sekadar tontonan dan hiburan pun, ternyata bisa menjadi penindas.
Veven Sp Wardhana, Penulis Fiksi & Nonfiksi, Mukim di Tangerang, Banten
Sumber : Kompas